Oleh: Redaksi
Ada satu jenis pejabat yang mudah dikenali dalam setiap pertemuan. Bukan karena prestasinya, bukan pula karena gagasan-gagasannya yang brilian. Ia mudah dikenali karena dalam lima menit pertama perkenalan, orang sudah tahu seluruh daftar jabatannya.
"Saya ini PNS, pejabat, pengusaha sekaligus CEO."
Kalimat itu meluncur mantap dari bibirnya. Bahkan sebelum lawan bicara sempat bertanya, ia sudah lebih dulu menjelaskan perjalanan hidupnya. Bahwa dulu hanya bermodal Rp50 juta dari ayahnya, kini telah memiliki klinik, berbagai aset, hingga mobil seharga Rp1,8 miliar.
"Ini bukan pamer, ini motivasi," katanya berulang kali.
Namun semakin sering kalimat itu diucapkan, semakin sulit membedakan antara motivasi dan promosi diri.
Hari itu, dalam sebuah agenda anjangsana, sang pejabat kembali tampil seperti biasa. Dengan penuh percaya diri ia memperkenalkan dirinya kepada seorang pengusaha muda yang dikenal sebagai miliarder sukses di daerahnya.
Perkenalan itu dimulai dengan jabatan formalnya sebagai Kepala Kantor di sebuah Kementerian. Namun tak berhenti di sana. Seperti menu wajib yang tak boleh terlewat, ia kembali menambahkan identitas lain yang menurutnya lebih mengesankan.
"Saya juga CEO."
Tak cukup sekali.
"Ya, saya CEO."
Beberapa menit kemudian, kata CEO kembali muncul dalam percakapan.
Entah karena bangga atau takut orang lain lupa.
Di hadapannya, miliarder muda itu hanya tersenyum.
Senyum tipis.
Senyum yang sulit diterjemahkan.
Bukan senyum kagum.
Bukan pula senyum hangat.
Lebih mirip senyum seseorang yang sedang mendengarkan cerita yang sebenarnya tidak perlu diceritakan.
Sang miliarder muda tampak santai. Ia tidak menyebut nilai asetnya. Tidak menghitung jumlah bisnis yang dimiliki. Tidak menjelaskan harga kendaraan yang terparkir di rumahnya. Bahkan tidak menyinggung posisi istrinya.
Padahal jika ingin berlomba daftar pencapaian, mungkin ia punya bahan cerita yang jauh lebih panjang.
Dalam benak sebagian orang yang menyaksikan pertemuan itu, senyum sang miliarder seolah memiliki arti tersendiri.
"Kamu CEO? Baiklah."
Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa pergaulan yang lebih lugas, mungkin kurang lebih berbunyi:
"Gaya saja. Saya bupati, pengusaha, punya banyak usaha dan aset, tapi biasa saja."
Tentu tak ada yang tahu isi hati sang miliarder muda. Senyum adalah bahasa yang paling sulit dibuktikan maknanya. Namun satu hal yang tampak jelas: semakin tinggi seseorang berdiri, sering kali semakin sedikit ia merasa perlu menjelaskan siapa dirinya.
Karena pada akhirnya, kesuksesan yang sesungguhnya jarang membutuhkan pengeras suara.
Orang-orang yang benar-benar besar biasanya tidak sibuk mengumumkan kebesarannya.
Mereka cukup tersenyum.
Dan terkadang, senyum itulah yang justru paling nyaring terdengar.(*)


No comments:
Post a Comment